Sabtu, 23 Februari 2013

MEMAHAMI PENGERTIAN KURIKULUM DALAM AGENDA PERUBAHAN KURIKULUM 2013


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Kurikulum merupakan bagian dan sistem pendidikan yang tidak bisa dipisahkan dengan komponen sistern lainnya. Tanpa Kurikulum suatu sistem pendidikan tidak dapat dikatakan sebagai sistem pendidikan yang sempurna. Ia merupan ruh (spirit) yang menjadi gerak dinamik suatu sistem pendidikan, Ia juga merupakan sebuah idea vital yang menjadi landasan bagi terselenggaranya pendidikan yang baik. Bahkan, kurikulum seringkali menjadi tolok ukur bagi kualitas dan penyelenggaraan pendidikan. Baik buruknya kurikulum akan sangat menentukan terhadap baik buruknya kualitas output pendidikan, dalam hal ini, peserta didik.
Dalam kedudukannya yang strategis, kurikulum memiliki fungsi holistik dalam dunia pendidikan, ia memiliki peran dan fungsi sebagai wahana dan media konservasi, internalisasi, kristalisasi dan transformasi ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan nilai – nilai kehidupan ummat manusia.
Sebagai wahana dan media konservasi, kurikulam memiliki konstribusi besar dan strategis bagi pewarisan amanat ilmu pengetahuan yang diajarkan Allah SWT melalui para nabi dan rosul, para filosof, para cendikiawan, ulama, akademisi dan para guru, secara turun temurun, inter dan antar generasi melalui pengembangan potensi kogntif, afektif dan psikomotorik para muridnya. Sehingga ilmu pengetahuan dan nilai-nilai kehidupan dalam kerangka menciptakan situasi kondusif, dinamis dan kostruktif tatanan dunia ini berlangsung secara kontinum.
Sebagai wahana dan media intemalisasi, kurikulum berfungsi sebagai alat untuk memahami, menghayati dan sekaligus mengamalkan ilmu dan nilai-nilai itu. dalam spektrum relitas kehidupan yang sangat luas dan universal, juga kehidupan ini memiliki kebermaknaan, dalam arti nilai guna dan hasil guna.
 Kurikulum sebagai sebuah rancangan pendidikan mempunyai kedudukan yang sangat strategis dalam seluruh aspek kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya peranan kurikulum di dalam pendidikan dan dalam perkembangan kehidupan manusia, maka dalam penyusunan kurikulum tidak bisa dilakukan tanpa menggunakan landasan yang kokoh dan kuat.
Landasan pengembangan kurikulum tidak hanya diperlukan bagi para penyusun kurikulum atau kurikulum tertulis yang sering disebut juga sebagai kurikulum ideal, akan tetapi terutama harus dipahami dan dijadikan dasar pertimbangan oleh para pelaksana kurikulum yaitu para pengawas pendidikan dan para guru serta pihak-pihak lain yang terkait dengan tugas-tugas pengelolaan pendidikan, sebagai bahan untuk dijadikan instrumen dalam melakukan pembinaan terhadap implementasi kurikulum di setiap jenjang pendidikan. Penyusunan dan pengembangan kurikulum tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Dibutuhkan berbagai landasan yang kuat agar mampu dijadikan dasar pijakan dalam melakukan proses penyelenggaraan pendidikan, sehingga dapat memfasilitasi tercapainya sasaran pendidikan dan pembelajaran secara lebih efektif dan efisien.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian Kurikulum?
2.      Apa Saja  Landasan  Pengembangan Kurikulum?











BAB II
PEMBAHASAN


A.    Pengertian Kurikulum
Kurikulurn merupakan salah satu alat untuk membina dan mengembangkan siswa menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab[1]
Menurut Muhaimin kurikulum berasal dari kata Yunani yang semula digerakan dalam bidang olahraga yaitu currere yang berarti jarak tempuh lari, yakni jarak yang harus ditempuh dalam kegiatan berlari mulai dari start sumpai finish. Pengertian ini kemudian digunakan dalam pendidikan.[2] Menurut Muhaimin mengutip pendapat Saylor kurikulum adalah segala usaha sekolah/perguruan tinggi yang bisa menghasilkan atau menimbulkan hasil-hasil yang dikehendaki, apakah itu di dalam situasi sekolah maupun di luar sekolah[3]. Muhaimin mengemukakan bahwa pengembangan kurikulum itu berangkat dari ide yang pada gilirannya diwujudkan dalam bentuk program.[4]
Kurikulum kemudian diartikan sebagai sejumlah mata pelajaran atau ilmu pengetahuan yang ditempuh atau dikuasai untuk mencapai suatu tingkat tertentu atau ijazah. Disamping itu, kurikulum juga diartikan sebagai suatu rencana yang sengaja dirancang untuk mencapai sejumlah tujuan pendidikan. Itulah sebabnya orang pada waktu lalu juga menyebutkan kurikulum dengan istilah “rencana pelajaran” yang merupakan terjemahan leerplen. Rencana pelajaran merupakan salah satu komponen dalam asas-asas didaktik yang harus dikuasai.[5]
Sedangkan secara terminologi, pengertian kurikulum dapat kita lihat atau baca dari para ahli berikut ini:[6]
1.         Crow and Crow
Kurikulum adalah rancangan pengajaran yang isinya sejumlah mata pelajaran yang disusun secara sistematis sebagai syarat untuk menyelesaikan suatu program pendidikan tertentu.
2.         Saylor Alexander (dikutip S. Nasution)
Kurikulum bukan hanya memuat sejumlah mata pelajaran, akan tetapi termasuk juga didalamnya segala usaha sekolah untuk mencapai tujuan yang diinginkan baik di lingkungan sekolah maupun diluar lingkungan sekolah.
3.         Hasan langgulung
Kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olahraga, dan kesenian baik yang dilaksanakan dilingkup sekolah maupun diluar lingkungan sekolah.
Dari hal diatas dapat disimpulkan bahwa kurikulum itu merupakan landasan atau pedoman bagi seorang pendidik dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik atau pembimbing bagi peserta didik (siswa) yang dididknya ke arah tujuan yang diinginkan sehingga adanya pengetahuan, keterampilan dan sikap yang bisa mnejadikan Insan Kamil.

B.     Landasan Pengembangan
1.      Landasan Filosofis
            Filsafat sangat penting karena harus dipertimbangkan dalam mengambil keputusan tentang setiap aspek kurikulum. Untuk tiap keputusan harus ada dasarnya. Filsafat adalah cara berfikir yang sedalam-dalamnya, yakni sampai akarnya tentang hakikat sesuatu.
Ada orang yang berpendapat bahwa guru tak perlu mempelajari filsafat, karena sangat abstrak dan karena itu tak praktis dan tidak ada manfaatnya bagi pekerjaannya. Pendirian itu terlampau picik, karena apa yang dilakukan guru harus didasarkan pada apa yang dipercayai, diyakininya sebagai benar dan baik. Filsafat itu antara lain menentukan kepercayaan kita tentang : apakah hakikat manusia, khususnya hakikat anak dan sifat-sifatnya, apakah sumber kebenaran dan nilai-nilai yang hendak menjadi pegangan hidup kita, tentang apakah yang baik, apakah hidup yang baik, apakah yang sebaiknya diajarkan kepada anak didik, apakah peranan sekolah dalam masyarakat, apakah peranan guru dalam proses belajar mengajar dan lain-lain.[7]
Filsafat dalam arti yang sebenarnya adalah cinta akan kebenaran, yang merupakan rangkaian dari dua pengertian, yakni philein (cinta) dan shopia (kebajikan). Dalam batasan modern, filsafat diartikan sebagai ilmu yang berusaha memahami semua hal yang muncul di dalam keseluruhan lingkup pengalaman manusis, yang berharap agar manusia dapat mengerti dan mempunyai pandangan menyeluruh dan sistematis mengenai alam semestadan tempat manusia di dalamnya. Intinya manusia merupakan bagian dari dunia.
Filsafat pendidikan dipengaruhi oleh dua hal yang pokok, yaitu cita-cita masyarakat dan kebutuhan peserta didik yang hidup di masyarakat.  Filsafat adalah cinta pada kebijaksanaan (love of wisdom). Agar seseorang dapat berbuat bijak, maka harus berpengetahuan, pengetahuan tersebut diperoleh melalui proses berpikir secara sistematis, logis dan mendalam. Filsafat dipandang sebagai induk segala ilmu karena filsafat mencakup keseluruhan pengetahuan manusia yaitu meliputi metafisika, epistimologi, aksiologi, etika, estetika, dan logika.[8]
Sebagai induk dari semua pengetahuan (the mother of know ledge) filsafat dapat dirumuskan sebagai:
a). metafisika: yakni studi tentang hakikat kenyataan atau realitas
b). epistimologi. Yakni studi tentang hakikat pengetahuan
c). aksiologi: yakni studi tentang nilai
d). etika: yakni studi tentang hakikat kebaikan
e). estetika: yakni studi tentang hakikak keindahan
f).  logika. Yakni studi tentang hakikat penalaran
Namun demikian, seorang tidak perlu mendalami semua bidang filsafat dalam mengembangkan kurikulum. Pendidikan pada prinsipnya bersifat normatif yang ditentukan oleh sistem nilai yang dianut. Tujuan pendidikan adalah membina “warga negara yang baik” dan norma-norma yang baik tersebut tercantum dalam falsafah bangsa indonesia adalah falsafah pancasila.[9]

2.      Landasan Sosiologis
Asas sosilogis mempunyai peran penting dalam mengembangkan kurikulum pendidikan pada masyarakan dan bangssa dimuka bumi ini. Suatu kurikulum pada prinsipnya mencerminkan keinginan, cita-cita tertentu dan kebutuhan masyarakat. Karena itu, sudah sewajarnya pendidikan memperhatikan aspirasi masyarakat dan pendidikan mesti memberi jawaban atas tekanan-tekanan yang datang dari soio-politik-ekonomi yang dominan. Berbagai kesukaran juga akan muncul apabila kelompok sosial dalam masyarakat, seperti: militer, politik, agama, industri, pemerintah, swasta, ekonomi, dan lain-lain, mengajukan keinginan yang bertentangan dengan kepentingan kelompok masing-masing. Akhirny sangat memungkinkan muncul tekanan dari sumber ekternal, dari negara lain, organisasi internasional, dan lain-lain.
Dari sudut pandang sosiologis, dalam sistem pendidikan serta lembaga-lembaga pendidikan tedapat bahan yang memiliki beragam fungsi dari kepentingan masyarakat, yakni:
a.       Mengadakan revisi dan perubahan sosial
b.      Mempertahankan kebebasan akademis dan kebebasan melaksanakan penelitian ilmiah
c.       Mendukung dan ikut memberi kontribusi kepada pembangunan
d.      Menyampaikan kebudayaan dan nilai-nilai tradisional serta mempertahankan status quo
e.       Mengeksploitasi orang banyak demi kesejahteraan golongan elit
f.       Mewujudkan revolusi sosial untuk melenyapkan pengaruh-pengaruh pemerintah terdahulu
g.      Mendukung kelompok-kelompok tertentu, antara lain kelompok militer, industri atau politik
h.      Menyebarluaskan falsafah, politik dan kepercayaan tertentu
i.        Membimbing dan mendisiplinkan jalan pikiran generasi muda
j.        Mendorong dan mempercepat laju  kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
k.      Mendidik generasi muda agar menjadi warga negara nasional dan warga dunia
l.        menjadi Mengajarkan keterampilan pokok, misalnya, membaca, menulis, dan berhitung, serta
m.    Memberikan keterampilan yang berhubungan dengan mata pencaharian.
Banyak lagi aspek yang lain yang turut memberikan pengaruh mengenai apa yang harus dimasukkan kedalan kurikulum, yakni yang  menjadi kebutuhan masyarakat ( the need of society) antara lain:
a.       Interaksi yang kompleks antara kekuatan-kekuatan sosial, politik, ekonomi, militer, industri dan kultural dengan masyarakat
b.      Berbagai kekuatan dominan, sebagaimana diungkapkan diatas, dibagian dunia lainnya erat hubungannya dengan negara bersangkutan, dan
c.       Pribadi pinpinnan dan tokoh-tokoh yang memegang kekuasaan formal dan informal di berbagai lapisan masyarakat.[10]




3.      Landasan Psikologis
Dalam mengambil keputusan tentang kurikulum pengetahuan tentang psikologi anak dan bagaimana anak belajar, sangat diperlukan antara lain :
1.      Seleksi dan organisasi bahan pelajaran
2.      Menentukan kegiatan belajar yang paling serasi
3.      Merencanakan kondisi belajar yang optimal agar tujuan belajar tercapai.[11]
Kurikulum belajar mengetengahkan beberapa teori belajar yang masing-masing menelaah proses mental dan intelektual perbuatan belajar tersebut. Kurikulum yang dikembangkan sebaiknya selaras dengan proses belajar yang dilakukan oleh siswa sehingga proses belajarnya terarah dengan baik dan tepat.[12]
Kontribusi psikologi terhadap studi kurikulum memiliki dua bentuk. Pertama, model konseptual dan informasi yang akan membangun perencanaan pendidikan. kedua, berisikan berbagai metodologi yang dapat diadaptasi untuk penelitian pendidikan. Pertanyaan tentang mata pelajaran, model-model, dan metodologi-metodologi itu bermacam-macam dan informasinya sering tidak lengkap dan berkontradiksi. Tidak terdapat teori-teori psikologi, tetapi hanya ada studi dan teori-teori psikologi dalam hal perbedaan tingkat kecanggihan. Tidak kurang, beberapa bidang cukup dikembangkan untuk menawarkan petunjuk-petunjuk kepada pendidik dan perencana kurikulum.
Bentuk filosofis dan sosiologis lebih mengarah kepada penentuan tujuan akhir, yang diharapkan bagi anak didik dalam kurikulum itu. Pengetahuan psikologi itu akan membantu para pengembang kurikulum untuk lebih realistik dalam memilih tujuan-tujuan tetapi tidak akan menentukan tujuan-tujuan apa yang seharusnya.
Dalam memilih pengalaman belajar yang akurat, psikolog secara umum sangat membantu. Teori-teori belajar, teori-teori kognitif, pengembangan emosional, dinamika group, perbedaan individu, kepribadian, model formasi sikap dan perubahan dan mengetahui pengetahui motivasi, semuanya sangat relevan dalam merencanakan pengalaman-pengalaman pendidikan (educational experinces).[13]

4.      Organisatoris
Keadaan masyarakat senantiasa berubah dan mengalami kemajuan pesat, sehingga tentu akan memberi beban baru bagi pengembang kurikulum (curriculum developers), yang berperan sebagai pembuat keputusan (decision makers) dan memilih terhadap apa yang harus diajarkan kepada siapa. Dalam hubungan ini Nasution  (1989:34) menyatakan bahwa ada 2 (dua) masalah pokok yang harus dipertimbangkan, yakni : a) pengetahuan apa yang paling berharga untuk diberikan kepada anak didik dalam suatu bidang studi, b) sebahaimana mengorganisasi bahan itu agar anak didik dapat menguasainya dengan sebaik-baiknya.
Kalau diperhatikan secara seksama, yang paling berwenang memecahkan masalah adalah para spesialis dalam disiplin ilmu bersangkutan, dengan persyaratan para spesialis itu selalu mengikuti perkembangan ilmunya, dan tentunya harus memahami asas filosofis, sosiologis dan psikologis dalam mengambil keputusan.
Sementara itu, para pengembang kurikulum mempunyai tugas untuk membantu mereka (para spesialis) agar memahami sepenuhnya akan tugas mereka dalam menentukan pengetahuan paling berharga tersebut. Pendekatan yang paling baik kemungkinan adalah dengan membentuk tim yang diketuai ahli pengembang kurikulum yang  juga memiliki pengetahuan yang memadai   mengenai bidang studi tersebut.
5.      Sosio-Budaya
Nilai social-budaya dalam masyarakat bersumber dari hasil karya akal budi manusia, sehingga dalam menerima, menyebarluaskan, dan melestarikannya manusia menggunakan akalnya. Setiap masyarakat memiliki adat istiadat, aturan-aturan, dan cita-cita yang ingin dicapai dan dikembangkan. Dengan adanya kurikulum di madrasah diharapkan pendidikan dapat memperhatikan dan merespon hal-hal tersebut.[14]
a.       Pendidikan dan Masyarakat
Ada tiga sifat penting pendidikan. Pertama, pendidikan mengandung nilai dan memberikan pertimbangan nilai. Hal itu disebabkan karna pendidikan diarahkan pada pengembangan pribadi anak agar sesuai dengan nilai-nilai yang daa dan diharapkan masyarakat. Karena tujuan pendidikan mengandung nilai, maka isi pendidikan harus memuat nilai. Proses pendidikannya juga harus bersifat membina dan mengembangkan nilai. Kedua, pendidikan diarahkan pada kehidupan masyarakat. Pendidikan bukan hanya untuk pendidikan, tetapi menyiapkan anak untuk kehidupan dalam masyarakat. Generasi muda perlu mengenal dan memahami apa yang ada dalam masyarakat.  Memiliki kecakapan untuk berpartisipasi dalam masyarakat, baik sebagai warga maupun sebagai karyawan. Ketiga, pelaksanaan pendidikan dipengaruhi dan didukung oleh lingkungan masyarakat tempat pendidikan itu berlangsung. Kehidupan masyarakat berpengaruh terhadap proses pendidikan, karena pendidikan sangat melekat dengan kehidupan masyarakat. Pelaksanaan pendidikan memburuhkan dukungan dari lingkungan masyarakat, penyediaan fasilitas, personalia, sistem sosial budaya, politik, keamanan, dan lain-lain.
Salah satu aspek yang cukup penting dalam sistem sosial budaya adalah tatanan nilai-nilai. Tatanan nilai merupakan seperangkat ketentuan, peraturan, hukum, moral yang mengatur cara berkehidupan dan berprilaku para warga masyarakat. Nilai-nilai tersebut bersumber dari agama, budaya, kehidupan politik, maupun dari segi-segi kehidupan lainnya. Sejalan dengan perkembangan masyarakat maka nilai-nilai yang ada dalam masyarakat juga selalu berkembang dan mungkin pada suatu saat perkembangan begitu drastis, sehingga tidak jarang menimbulkan perbedaan bahkan konflik nilai. Konflik nilai bisa juga diakibatkan adanya perbedaan sudut pandang karena adanya variasi sumber-sumber nilai tersebut.
b.      Perkembangan Masyarakat
Salah satu ciri dari masyarakat adalah selalu berkembang. Mungkin pada masyarakat tertentu perkembangannya sangat cepat, tetapi pada masyarakat lainnya agak lambat bahkan lambat sekali. Karena adanya pengaruh dari perkembangan teknologi terutama teknologi industri, transportasi, komunikasi, telekomunikasi dan elektronika. Dalam kondisi masyarakat demikian, perubahan-perubahan terjadi dengan cepat, mobilitas manusia dan barang sangat tinggi, komunikasi cepat, lancar dan akurat. Perubahan yang cepat hampir terjadi dalam semua aspek kehidupan, sosial budaya, ekonomi, politik, ideologi, nilai-nilai etikdan estetik. Perubahan-perubahan masyarakat ini akan mempengaruhi perkembangan setiap individu warga masyarakat, mempengaruhi pengetahuan, kecakapan, sikap, aspirasi, minat, semangat, kebiasaan bahkan pola-pola hidup mereka.
Ciri universal dari manusia adalah kehidupan dalam kelompok. Manusia lahir kelompok dan melalui kehidupan bersama ini manusia belajar dan memperoleh pengetahuan, keterampilan, sikap nilai dan sebagainya. Dalam kelompok pula manusia mempelajari alat-alat dan proses-proses, menerima agama dan pandangan hidup.
Masyarakat adalah suatu sistem, suatu totalitas dimana didalam totalitas tersebut terdapat berbagai sub sistem yang secara struktural berjenjang mullai sub sistem kepercayaan, sub sistem nilai, atau norma-nurma sub sistem kebutuhan dan selanjutnya sistem permintaan.
Sub sistem kepercayaan menjadi dasar timbulnya sub nilai, sub sistem ini mendasari sub sistem kebutuhan dan selanjutnya menjadi dasar dari sub sistem permintaan. Pemenuhan atas suatu sub sistem akan mempengaruhi atau merubah sub sistem berikutnya, demikian seterusnya. Masyarakat suatu sistem maupun suatu sub-sub sistem berikutnya mempengaruhi proses pendidikan. Dan karenaya harus dipertimbangkan dalam penyusunan kurikulum.[15]
c.       Perkembangan Ilmu Pengetahuan
 Pendidikan merupakan suatu usaha penyiapan peserta didik untuk menghadapi lingkungan hidup yang mengalami perubahan yang semakin pesat dan terus berkembang. Sehingga dengan bekal ilmu pengetahuan dan teknologi,setelah siswa lulus diharapkan dapat menyesuaikan diri di lingkungannya dengan baik. [16]
d.      Perkembangan Teknologi
Dari para ahli, kita sering mendengar pernyataan bahwa ilmu bukan hanya untuk ilmu. Pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa pengembangan suatu ilmu pengetahuan tidak hanya ditujukan kepada perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri, melainkan juga diharapkan dapat memberikan sumbangan kepada bidang-bidang kehidupan atau ilmu lainnya. Sumbangan yang berupa penggunaan atau penerapan suatu bidang ilmu pengetahuan terhadap bidang-bidang lain disebut teknologi. Iskandar Alisyahbana merumuskan lebih jelas dan lengkap tentang teknologi.
Teknologi ialah cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan bantuan alat dan akal (hardware dan software) sehingga seakan-akan memperpanjang, memperkuat, atau membuat lebih ampuh anggota tubuh, panca indra, dan otak manusia.






BAB III
KESIMPULAN

Kurikulum berasal dari bahasa Yunani yaitu “curir” yang artinya pelari dan “curere” yang artinya jarak yang harus ditempuh oleh pelari. Jika dihubungkan dengan pendidikan kurikulum ini berarti bahan pengajaran, sedangkan dalam kosa kata Bahasa Arab istilah kurikulm dikenal dengan “manhaj” yang berarti jalan yang terang dilalaui oleh manusia pada berbagai bidang kehidupannya. Jika dikaitkan dengan pendidikan berarti jalan terang yang dilalui pendidik dengan orang-orang yang dididik untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap mereka.
Landasan pengembangan kurikulum diantaranya adalah landasan filosofis, landasan sosiologis, landasan psikologis, landasan organisatoris, landasan sosio-budaya,

















Daftar Pustaka

Abuddin Nata, , 2005. Filsafat Pendidian Islam, Jakarta : Gaya Media Pratama

Burhan Nurgiyantoro, 2008, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum Sekolah, Sebuah Pengantar Teoritik dan Pelaksanaan, Yogyakarta, BPFE anggota IKAPI
Dr. Idi Abdullah, M.Ed, 2007. Pengembangan Kurikulum, teori dan praktek., jogjakarta. Ar-Ruzz Media.
Dr. Oemar Hamalik, 1990. Pengembangan Kurikulum, dasar-dasar dan perkembangannya, Bandung, Mandarmaju.
Muhammad Zaini, 2009. Pengembangan Kurikulum Konsep Implementasi Konsep dan Inovasi. Yogyakarta: Teras
Muhaimin, 2005. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta
Muhaimin, ,2006. Nuansa Baru Pendidikan Islam, Mengrai Benang Kusut Dunia Pendidikan, PT RajaGratindo Persada, Jakarta
Oemar Hamalik, , 2008. Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung: Remaja Rosdakarya

Prof. Dr. Nasution S, M.A. 2006, Asas-asas Kurikulum, Jakarta, Bumi Aksara.

Syaiful Sagala, , 2010. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta







[2] Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah, dan Perguruan Tinggi, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta 2005. h. 1
[3] Ibid …. H. 3
[4] Muhaimin, Nuansa Baru Pendidikan Islam, Mengrai Benang Kusut Dunia Pendidikan, PT RajaGratindo Persada, Jakarta,2006. h. 80
[5] Burhan Nurgiyantoro, dasar-dasar pengembangan kurikulum sekolah, sebuah pengantar teoritik dan pelaksanaan, 2008, yogyakarta, BPFE anggota IKAPI. Hlm. 3.
[6] Abuddin Nata, Filsafat Pendidian Islam, Jakarta : Gaya Media Pratama, 2005. hal 175-176
[7] Prof. Dr. Nasution S, M.A. Asas-asas Kurikulum, 2006, Jakarta, Bumi Aksara. Hlm. 22
[8] Ibid hlm 57. Lihat Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran. (Jakarta: Bumi Aksara, 2001), hlm 20. Lihat Muhammad Zaini, Pengembangan Kurikulum Konsep Implementasi Evaluasi dan Inovasi. (Yogyakarta: Teras, 2009), hlm 23,
[9] Dr. Idi Abdullah, M.Ed, Pengembangan Kurikulum, teori dan praktek. 2007, jogjakarta. Ar-Ruzz Media. Hal 68-69
[10] Dr. Idi Abdullah, M.Ed, Op Cit, hlm. 74
[11] Prof. Dr. Nasution S, M.A, Op Cit. hlm. 57
[12] Oemar Hamalik, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), hlm  58
[13] Ibit.
[14] Muhammad Zaini, Pengembangan Kurikulum Konsep Implementasi Konsep dan Inovasi. (Yogyakarta: Teras, 2009), hlm 45. Lihat syaiful Sagala, Konsep dan makna Pembelajaran. (Bandung: Alfabeta, 2010), hlm 250
[15] Dr. Oemar Hamalik, pengembangan Kurikulum, dasar-dasar dan perkembangannya, 1990, Bandung, mandarmaju. Hlm. 49-50
[16] Ibid. Lihat Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran. (Jakarta: Bumi Aksara, 2001), hlm 22-23

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes